Banjir bandang yang terjadi menjelang akhir tahun 2025 itu merupakan dampak dari curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah hulu pegunungan di sekitar Langkahan selama beberapa hari berturut-turut. Luapan air sungai yang tidak mampu menampung debit air yang masif melimpah ruah, menghantam pemukiman warga dengan kecepatan dan kekuatan yang dahsyat. Desa Matang Ketapang, yang terletak di daerah dataran rendah, menjadi salah satu wilayah yang paling parah merasakan dampaknya. Ribuan warga terdampak, rumah-rumah terendam hingga atap, lahan pertanian hancur lebur, dan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah, memutus akses dan memperparah kondisi. Setelah air surut, pemandangan yang tersisa adalah lapisan lumpur tebal yang menyelimuti segala penjuru, mengubah desa menjadi lautan coklat yang lengket dan bau.
Achmad Yani, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana PMI Aceh Utara, menegaskan bahwa kondisi air bersih menjadi salah satu persoalan paling mendesak dan utama yang dihadapi warga setelah banjir surut. Ia menjelaskan bahwa banyak sekali sumur warga, yang merupakan sumber air utama bagi sebagian besar rumah tangga, tidak dapat lagi digunakan. Air di dalamnya bercampur dengan lumpur pekat, endapan tanah, dan berbagai material asing lainnya, membuatnya keruh, berbau, dan tidak layak konsumsi maupun untuk keperluan sehari-hari. "Ketersediaan air bersih sangat krusial setelah bencana banjir. Pengurasan sumur ini menjadi langkah penting dan prioritas utama agar warga bisa kembali menggunakan air dengan aman dan terhindar dari risiko penyakit yang mengancam," kata Achmad Yani, sebagaimana dilaporkan oleh Antara pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ketiadaan akses terhadap air bersih yang aman memiliki implikasi serius terhadap kesehatan dan kehidupan sosial masyarakat. Tanpa air bersih, warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti minum, memasak makanan, mandi, mencuci pakaian, dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan. Kondisi ini secara langsung meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis air seperti diare, kolera, disentri, tifus, dan berbagai jenis infeksi kulit. Anak-anak dan kelompok rentan lainnya, seperti lansia dan ibu hamil, menjadi yang paling rentan terhadap ancaman ini, karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum sempurna atau sudah menurun. Sebelum intervensi PMI, banyak keluarga terpaksa mengandalkan air kemasan yang terbatas atau mengambil air dari sumber yang tidak terjamin kebersihannya, bahkan ada yang harus berjalan jauh menuju desa tetangga yang tidak terdampak parah untuk mendapatkan air.
Melihat urgensi tersebut, tim relawan PMI Aceh Utara segera memobilisasi personel dan peralatan yang dibutuhkan. Dengan semangat kemanusiaan yang tinggi, para relawan bahu-membahu membersihkan sumur-sumur warga satu per satu. Prosesnya meliputi pemompaan air kotor yang bercampur lumpur, pengerukan endapan lumpur dan sampah dari dasar sumur menggunakan sekop dan ember, serta pembersihan dinding-dinding sumur dari kotoran yang menempel. Setelah sumur bersih dari material asing, tahap selanjutnya adalah disinfeksi atau pemberian klorin dosis rendah untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme berbahaya, sehingga air yang kembali mengisi sumur tersebut benar-benar aman untuk digunakan. Tidak hanya membersihkan sumur, PMI juga memberikan edukasi singkat kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan sumber air dan praktik hidup bersih sehat pasca-bencana.
Kehadiran relawan PMI di tengah kesulitan yang melanda memberikan secercah harapan bagi warga yang terdampak banjir. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, bantuan konkret berupa pemulihan akses air bersih ini sangat membantu meringankan beban berat yang ditanggung warga. Ini adalah bentuk dukungan nyata yang tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan. Sejumlah sumur warga yang sebelumnya sama sekali tidak bisa dipakai karena terendam air bercampur lumpur, limbah, dan material lainnya, kini perlahan kembali berfungsi. Kondisi ini sebelumnya membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari kebutuhan dasar seperti minum dan memasak, hingga menjaga kebersihan sanitasi lingkungan yang esensial.
Krisis air bersih pasca-bencana alam seperti banjir bandang seringkali menjadi tantangan besar yang berlarut-larut. Lumpur dan material organik yang terbawa banjir dapat mencemari sumur dangkal maupun dalam, mengubah kualitas air secara drastis. Selain itu, kerusakan pada sistem perpipaan air bersih juga bisa memperparah keadaan. Oleh karena itu, tindakan cepat dan terkoordinasi seperti yang dilakukan PMI sangat vital. PMI tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada tahap pemulihan awal, memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi agar mereka dapat segera bangkit dari keterpurukan.

Dengan adanya bantuan sistematis dari PMI, warga Matang Ketapang kini menaruh harapan besar bahwa ketersediaan air bersih dapat segera pulih sepenuhnya. Ini adalah kunci agar aktivitas sehari-hari mereka dapat kembali berjalan normal, anak-anak dapat kembali ke sekolah, dan roda perekonomian mikro di desa dapat kembali berputar. Pemulihan akses air bersih adalah fondasi bagi pemulihan kesehatan masyarakat, yang pada gilirannya akan mendukung proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang lebih luas. PMI Aceh Utara terus berkomitmen untuk mendampingi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pasca-bencana, menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan dan gotong royong adalah kekuatan tak terbatas dalam membangun kembali harapan dan kehidupan yang lebih baik.


