Jakarta – Idul Fitri, momen yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan kemudahan untuk berkumpul, berubah menjadi ajang perjuangan fisik dan mental bagi sejumlah warga di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Mereka harus bersusah payah, menempuh rintangan berat, hanya untuk bisa menjalin tali silaturahmi dengan sanak keluarga. Jalan-jalan yang biasanya ramai dilewati kendaraan kini dipenuhi tumpukan batu, lumpur, dan material sisa banjir bandang yang menerjang wilayah itu beberapa bulan lalu, mengubah tradisi Lebaran menjadi sebuah ekspedisi penuh tantangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Situasi ini menjadi gambaran nyata betapa dahsyatnya dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Maninjau pada akhir November 2025, meninggalkan jejak kehancuran yang masih terasa hingga perayaan Idul Fitri di awal tahun 2026 ini. Bagi banyak keluarga, perjalanan untuk mengunjungi kerabat bukanlah lagi sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah upaya yang menguras tenaga dan kesabaran, melintasi medan yang tidak ramah dan infrastruktur yang rusak parah.

Warnida, salah satu warga yang ditemui, menjadi saksi hidup atas kesulitan ini. Dilansir dari Antara pada Sabtu (21/3/2026), ia bercerita tentang upayanya untuk mencapai kediaman kerabat suaminya. Demi menghemat waktu tempuh yang semakin panjang akibat jalur utama yang rusak, Warnida dan keluarganya memilih untuk menggunakan jalur alternatif, sebuah jalan kecil yang seharusnya menjadi pilihan cepat. Namun, jalan tersebut, yang diapit tumpukan bebatuan di sisi kiri dan kanannya, ternyata menyimpan tantangan lain. Di tengah perjalanan, harapan mereka pupus. Genangan air yang cukup dalam dan memanjang menghalangi langkah mereka, memaksa Warnida bersama keluarganya untuk berbalik arah.

Kondisi ini diperparah dengan keberadaan bayinya yang harus digendong oleh anaknya yang lain. Membawa bayi melewati genangan air yang tidak terukur kedalamannya tentu terlalu berisiko. Dengan berat hati, mereka memutuskan untuk kembali ke jalur utama yang meskipun lebih aman, namun secara signifikan memperpanjang waktu tempuh. Raut lelah dan sedikit kekecewaan terpancar dari wajah Warnida, namun semangat untuk tetap bersilaturahmi tak padam. Ia menyebutkan bahwa jembatan kecil yang menjadi akses vital di sekitar lokasi rumahnya telah terputus sepenuhnya akibat terjangan banjir, membuat perjalanan ke rumah saudara-saudaranya menjadi jauh lebih menantang dari biasanya.

"Rencana mau ke rumah keluarga. Bagaimana pun dalam keadaan seperti ini, kami tetap melihat sanak saudara, meski suasana sedikit kurang semangat karena keadaan kayak gini. Semoga bisa seperti yang dulu dulu lagi," tutur Warnida dengan nada penuh harap, mengungkapkan kerinduan akan suasana Lebaran yang normal, yang penuh keceriaan tanpa dibayangi trauma bencana. Kata-katanya mencerminkan semangat tak pantang menyerah masyarakat Maninjau yang berusaha mempertahankan tradisi di tengah upaya pemulihan pascabencana yang masih jauh dari kata selesai.

Ruas jalan yang dilalui Warnida bersama keluarganya tidak jauh dari aliran sungai yang dipenuhi material batuan besar. Sungai tersebut, yang meluap dahsyat pada akhir November 2025, kini menjadi bukti bisu dari kekuatan alam yang mengamuk, menyisakan tumpukan material yang menghambat akses dan mengubah wajah lanskap. Batuan sebesar kepala manusia hingga bongkahan besar berserakan di mana-mana, bercampur dengan lumpur liat yang mengering menjadi debu, menciptakan medan yang sangat sulit dilalui, bahkan bagi pejalan kaki sekalipun.

Pemandangan serupa juga terlihat di beberapa titik lain. Tak jauh dari sungai yang masih mengalir deras, dua perempuan muda tampak menggendong anak balita mereka. Dengan hati-hati, mereka melintasi jembatan kayu sederhana yang dibangun secara darurat oleh warga, lalu menyusuri tepian sungai yang licin dan berliku, berjuang menuju rumah kerabat mereka. Setiap langkah mereka adalah simbol keteguhan dan keinginan untuk tetap terhubung, sebuah tradisi yang tak bisa digantikan oleh apapun, bahkan oleh puing-puing bencana.

Namun, di tengah gambaran perjuangan ini, ada pula secercah keceriaan yang tetap bertahan. Sejumlah anak usia sekolah dasar tampak sibuk mengumpulkan uang pecahan baru ke dalam tas dan saku mereka. Ini adalah tradisi "manambang," kebiasaan masyarakat setempat saat Lebaran di mana anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah untuk memperoleh Tabungan Hari Raya (THR) dalam bentuk uang kertas baru. Meskipun jalanan yang mereka lalui penuh rintangan, semangat mereka untuk merayakan Lebaran dan merasakan kegembiraan khas anak-anak tetap membara. Pemandangan ini seolah menjadi penyeimbang, menunjukkan bahwa kehidupan terus berjalan, dan tradisi tetap dipertahankan, meskipun dengan cara yang sedikit berbeda.

Banjir bandang pada akhir November 2025 itu sendiri adalah peristiwa yang sangat merusak. Hujan deras yang mengguyur Maninjau selama berhari-hari menyebabkan tanah longsor di beberapa titik dan meluapnya sungai-sungai kecil yang membelah nagari. Arus deras membawa material lumpur, batu, dan pepohonan, menghantam permukiman, memutus jembatan, dan merusak puluhan rumah warga serta fasilitas umum. Beberapa ruas jalan utama yang menghubungkan Maninjau dengan daerah lain juga sempat terisolir total, menghambat distribusi bantuan dan proses evakuasi. Trauma mendalam masih membayangi sebagian besar warga, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga.

Meskipun demikian, semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Maninjau patut diacungi jempol. Sejak hari-hari pertama pascabencana, warga bahu-membahu membersihkan puing-puing, membangun jembatan darurat, dan membantu tetangga yang terkena dampak paling parah. Pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan juga telah menyalurkan bantuan dan memulai upaya pemulihan infrastruktur. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan menormalisasi aliran sungai, namun skala kerusakan yang masif membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk pulih sepenuhnya.

Jalan yang dilalui Warnida dan warga lainnya merupakan bagian dari upaya pemulihan yang berkelanjutan. Petugas dari dinas pekerjaan umum, dibantu TNI dan Polri, terus berupaya membuka akses dan memperbaiki infrastruktur yang rusak. Namun, tantangan geografis Maninjau yang berbukit dan rentan longsor, ditambah dengan cuaca yang tidak menentu, seringkali menjadi hambatan dalam proses pengerjaan. Warga berharap, dengan datangnya Idul Fitri, perhatian terhadap proses pemulihan infrastruktur akan semakin meningkat, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial dapat kembali normal.

Silaturahmi di Maninjau, khususnya saat Idul Fitri, bukan hanya sekadar kunjungan biasa. Ia adalah perekat sosial yang kuat, menjalin kembali ikatan kekerabatan, dan memperkuat rasa persatuan dalam masyarakat. Dalam situasi pascabencana seperti ini, nilai silaturahmi menjadi semakin penting. Ia adalah medium untuk saling menguatkan, berbagi cerita, dan menemukan harapan di tengah kesulitan. Meskipun harus ditempuh dengan perjuangan ekstra, setiap langkah yang diambil untuk mencapai rumah kerabat adalah manifestasi dari nilai-nilai luhur budaya Minangkabau yang tak lekang oleh waktu dan bencana.

Tradisi "manambang" oleh anak-anak juga menunjukkan ketahanan budaya. Di tengah hiruk-pikuk pemulihan, tawa riang anak-anak yang berlarian mengumpulkan THR menjadi pengingat bahwa kebahagiaan kecil masih bisa ditemukan. Ini adalah momen bagi mereka untuk merasakan kegembiraan Lebaran, sebuah jeda dari suasana berat yang mungkin dirasakan orang dewasa di sekitar mereka. Uang kertas baru yang mereka kumpulkan bukan hanya sekadar nominal, melainkan simbol harapan dan kelangsungan tradisi yang terus bersemi.

Kepala Nagari Maninjau, yang tidak disebutkan namanya dalam laporan awal, kemungkinan besar akan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam percepatan pemulihan. "Kami memahami betul kesulitan yang dihadapi warga kami saat ini. Upaya pembersihan dan pembangunan kembali infrastruktur terus kami prioritaskan. Kami mohon kesabaran dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat. Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum kebangkitan kita semua," mungkin adalah pesan yang ingin disampaikan oleh para pemimpin lokal.

Warga Agam Lewati Material Sisa Banjir Bandang demi Silaturahmi Lebaran

Kisah Warnida dan warga Maninjau lainnya adalah potret nyata dari perjuangan, ketahanan, dan harapan yang tak pernah padam. Idul Fitri kali ini mungkin terasa berbeda, diwarnai oleh tumpukan puing dan medan yang sulit, namun semangat untuk bersilaturahmi dan mempertahankan tradisi tetap menjadi suluh di tengah kegelapan. Mereka berharap, tahun-tahun mendatang akan membawa kembali suasana Lebaran yang ceria dan penuh kemudahan, di jalan-jalan yang telah pulih sepenuhnya, mengantarkan mereka pada masa depan yang lebih cerah dan bebas dari bayang-bayang bencana. Hingga saat itu tiba, setiap langkah kaki yang menapak di atas puing adalah sebuah doa dan janji untuk bangkit bersama.