Fenomena aneh dan sekaligus memprihatinkan terjadi di Florida, Amerika Serikat, ketika iguana-iguana berjatuhan dari pepohonan, terkejut dan tidak berdaya akibat suhu dingin yang tidak biasa menerjang negara bagian yang dikenal dengan iklim subtropisnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu, saat kondisi es dan suhu beku menyelimuti Florida, menciptakan pemandangan surealis yang dengan cepat menjadi viral di media sosial, disusul oleh laporan FOTO/Iguana Control yang mengonfirmasi kejadian tersebut. Jatuhnya iguana ini bukan pertanda kematian, melainkan kondisi "torpor" atau mati suri, di mana reptil berdarah dingin ini untuk sementara tidak mampu bergerak akibat suhu tubuh mereka yang anjlok drastis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Suhu dingin ekstrem yang melanda Florida merupakan bagian dari gelombang cuaca dingin yang lebih besar yang mencengkeram sebagian besar wilayah Amerika Serikat bagian selatan dan timur, menyebabkan kekacauan dan kondisi berbahaya bagi jutaan penduduk. Di Orlando, Florida, suhu mencapai 24°F (-4°C), sebuah angka yang sangat mencengangkan dan tercatat sebagai suhu terendah di bulan Februari setidaknya sejak tahun 1923. Bagi negara bagian yang terbiasa dengan kehangatan dan sinar matahari sepanjang tahun, suhu di bawah titik beku seperti ini adalah anomali serius yang memiliki implikasi luas tidak hanya bagi satwa liar tetapi juga bagi pertanian dan infrastruktur.

Iguana hijau (Iguana iguana) adalah spesies invasif di Florida, yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Mereka telah beradaptasi dengan iklim hangat Florida selama beberapa dekade terakhir, berkembang biak dengan pesat dan menyebabkan kerusakan pada vegetasi, infrastruktur, dan bahkan mengancam spesies asli. Namun, adaptasi mereka terbatas pada iklim hangat. Sebagai hewan ektotermik, atau berdarah dingin, iguana tidak dapat menghasilkan panas tubuh sendiri dan sangat bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur fungsi vital mereka. Ketika suhu turun di bawah ambang batas tertentu, biasanya sekitar 45°F (7°C), metabolisme mereka melambat secara drastis, menyebabkan mereka memasuki kondisi torpor. Dalam keadaan ini, otot-otot mereka menjadi kaku, dan mereka kehilangan cengkeraman pada dahan pohon, menyebabkan mereka berjatuhan ke tanah.

Meskipun terlihat dramatis, sebagian besar iguana yang jatuh tidak mati. Mereka hanya tidak sadarkan diri dan akan pulih serta kembali aktif setelah suhu lingkungan kembali menghangat. Namun, ada risiko hipotermia dan predasi selama mereka tidak berdaya di tanah. Para ahli dan otoritas setempat seringkali memperingatkan masyarakat untuk tidak menyentuh iguana yang jatuh karena meskipun tidak sadar, mereka dapat menggigit atau mencakar jika merasa terancam saat mulai sadar. Fenomena iguana berjatuhan ini sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi di Florida; peristiwa serupa pernah dilaporkan selama gelombang dingin pada tahun 2010, 2018, dan 2020, menjadikannya indikator visual yang jelas akan intensitas suhu dingin yang ekstrem.

Dampak dari suhu dingin ini di Florida tidak hanya terbatas pada iguana. Tanaman tropis yang menjadi tulang punggung industri pertanian dan lanskap Florida, seperti jeruk dan tebu, sangat rentan terhadap kerusakan akibat embun beku. Petani harus bekerja keras untuk melindungi tanaman mereka dengan sistem irigasi anti-beku atau penutup pelindung. Satwa liar asli Florida juga terancam, termasuk manatee yang mencari perlindungan di perairan hangat atau stasiun pembangkit listrik, dan penyu laut yang bisa mengalami "cold stun" atau kejutan dingin, di mana mereka menjadi lesu dan tidak bisa berenang, sehingga harus diselamatkan oleh tim konservasi.

Di luar Florida, gelombang cuaca ekstrem ini telah menyebabkan kehancuran yang jauh lebih parah. Salju tebal dilaporkan di negara bagian yang jarang mengalaminya, seperti Carolina Utara. Kota Lexington mencatat salju setebal 16 inci (40 sentimeter), sementara Faust di Pegunungan Walnut di negara bagian itu menerima 22 inci (56 sentimeter) salju, mengubah lanskap menjadi pemandangan musim dingin yang dramatis dan seringkali berbahaya. Gubernur Carolina Utara, Josh Stein, melaporkan lebih dari 1.000 kecelakaan lalu lintas dan dua korban jiwa hanya dalam waktu satu hari, antara hari Sabtu dan Minggu, akibat kondisi jalan yang licin dan berbahaya. Ia mendesak masyarakat untuk tidak menggunakan jalan raya jika tidak benar-benar mendesak dan mewaspadai gejala radang dingin yang dapat mengancam jiwa.

Gelombang cuaca ekstrem terbaru ini terjadi hanya sekitar seminggu setelah badai dahsyat sebelumnya menghantam sebagian besar wilayah Amerika Serikat, menewaskan lebih dari 100 orang dan membuat banyak komunitas berjuang keras membersihkan diri dari tumpukan salju dan es. Badai sebelumnya ini menyebabkan pemadaman listrik massal, gangguan perjalanan udara dan darat yang parah, serta dampak ekonomi yang signifikan di seluruh negeri. Meskipun Florida tidak mengalami salju seperti Carolina, Georgia, Tennessee, Kentucky, dan bagian selatan Virginia, suhu beku yang dialaminya tetap merupakan ancaman serius yang menyoroti betapa rentannya wilayah subtropis terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Fenomena cuaca ekstrem ini sering dikaitkan dengan pergeseran jet stream yang tidak biasa, yang memungkinkan udara Arktik yang sangat dingin untuk menembus jauh ke selatan. Ini bukan hanya masalah ketidaknyamanan, tetapi juga krisis kemanusiaan dan ekonomi. Ribuan penerbangan dibatalkan, sekolah dan bisnis ditutup, dan layanan darurat kewalahan. Biaya untuk membersihkan salju, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan menyediakan bantuan bagi mereka yang terkena dampak mencapai miliaran dolar.

Gelombang Dingin Ekstrem Bekukan Florida, Iguana Berjatuhan dari Pohon

Secara keseluruhan, pemandangan iguana berjatuhan dari pohon di Florida berfungsi sebagai pengingat yang mencolok akan meluasnya dampak gelombang dingin ekstrem yang melanda Amerika Serikat. Dari reptil berdarah dingin yang tidak berdaya hingga jalan raya yang membeku dan menyebabkan kecelakaan fatal, serta suhu rekor yang mengancam pertanian dan satwa liar, peristiwa ini menyoroti kerentanan masyarakat dan ekosistem terhadap perubahan iklim yang semakin tidak terduga. Ini juga menegaskan pentingnya persiapan dan kesadaran akan dampak cuaca ekstrem yang mungkin akan menjadi lebih sering dan intens di masa mendatang.