Tragedi ini terjadi pada musim dingin yang membekukan di tahun 1692, di tengah pusaran persaingan antarklan yang sengit di Dataran Tinggi Skotlandia. Kala itu, beberapa klan besar kerap terlibat dalam permusuhan yang tak berkesudahan, memperebutkan kekuasaan, tanah, dan kehormatan. Di antara mereka, Klan Donald, atau yang lebih dikenal sebagai Klan MacDonald dari Glen Coe, adalah salah satu yang paling menonjol. Mereka telah mendiami lembah Glen Coe yang indah namun terpencil sejak abad ke-14, dipimpin oleh kepala klan yang dihormati, Alasdair MacDonald, atau yang akrab disapa MacIain.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Klan MacDonald dari Glen Coe memiliki reputasi sebagai klan yang tangguh dan independen, namun juga seringkali terlibat dalam konflik dengan hukum kerajaan dan klan-klan tetangga. Kehidupan mereka diwarnai oleh penyerangan, penjarahan, dan pencurian ternak, praktik yang umum terjadi di Dataran Tinggi kala itu, namun seringkali dianggap sebagai ancaman oleh otoritas pusat dan klan-klan lain yang menganut gaya hidup lebih "beradab" di Dataran Rendah.

Pada periode itu, situasi politik di Skotlandia sangatlah genting. Banyak klan Dataran Tinggi secara terbuka menyatakan kesetiaan mereka kepada Raja Stuart yang digulingkan, James VII, alih-alih kepada rezim baru di London di bawah Raja William dari Orange. Raja William sendiri, yang baru saja naik takhta setelah Revolusi Agung, sedang sibuk dengan perangnya melawan Raja Prancis, Louis XIV, sehingga ia ingin segera menstabilkan situasi di tanah kelahirannya.

Untuk mengamankan loyalitas dan mencegah pemberontakan lebih lanjut, sebuah perintah pun dikeluarkan: semua kepala klan di Dataran Tinggi Skotlandia harus menyatakan sumpah setia kepada Raja William paling lambat tanggal 1 Januari 1692. Awalnya, janji ini diserta dengan tawaran pembagian harta dan tanah bagi klan-klan yang dianggap sebagai ancaman, sebuah upaya untuk meredakan ketegangan. Namun, di balik fasad perdamaian, perintah ini justru dimanfaatkan secara licik untuk kepentingan politik yang jauh lebih gelap.

Dalang utama di balik manipulasi ini adalah Sekretaris Negara Skotlandia, John Dalrymple, Master of Stair. Seorang penduduk Dataran Rendah, Stair memiliki kebencian mendalam terhadap penduduk Dataran Tinggi Skotlandia. Ia memandang seluruh cara hidup mereka sebagai penghalang kemajuan dan persatuan Skotlandia dengan Inggris. Dalam pandangannya, menyingkirkan klan-klan Dataran Tinggi yang "bandel," terutama Klan MacDonald dari Glen Coe yang sangat tidak disukainya, akan menjadi langkah strategis untuk masa depan Skotlandia.

Pembantaian di Rumah Klan MacDonald

Waktu terus berjalan, dan batas waktu untuk mengucapkan sumpah semakin dekat. Saat musim dingin terburuk melanda Glen Coe pada tanggal 31 Desember 1692, MacIain, yang sangat khawatir akan keselamatan klannya, berangkat dengan susah payah menuju Fort William untuk menandatangani sumpah. Namun, setibanya di sana, ia dihalau oleh Kolonel John Hill, yang menjelaskan bahwa sumpah harus diucapkan di hadapan seorang sheriff. Ini berarti MacIain harus melakukan perjalanan tambahan sejauh 60 mil menuju Inveraray, kota utama musuh bebuyutan klannya, Klan Campbell.

Perjalanan yang sudah berat semakin dipersulit. MacIain sebenarnya masih bisa memenuhi batas waktu tersebut jika ia tidak ditangkap dan ditahan selama sehari oleh tentara Campbell yang bertugas di resimen Argyll. Penahanan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari serangkaian hambatan yang disengaja. Setibanya di Inveraray, MacIain kembali harus menunggu beberapa hari lagi karena ketidakhadiran Sheriff, Sir Colin Campbell. Bahkan setelah Sheriff hadir, MacIain harus memohon dengan sangat agar sumpah yang terlambat itu diterima. Ia akhirnya berhasil mengucapkan sumpah pada tanggal 6 Januari 1692, beberapa hari setelah batas waktu.

Di Edinburgh, Master of Stair bersama tim hukumnya dengan tegas menolak sumpah yang terlambat itu. Ini adalah kesempatan emas yang telah ia rekayasa. Semua sudah siap untuk kehancuran yang telah ia rencanakan bagi Klan MacDonald. Perintahnya jelas dan brutal: Klan MacDonald harus dibantai. Ia berhasil meyakinkan Raja William bahwa penolakan sumpah ini adalah alasan yang sah untuk menghukum klan tersebut, meskipun Raja William sempat ragu dan akhirnya menandatangani perintah tersebut dengan ketentuan bahwa "siapapun yang telah mengucapkan sumpah tidak akan terluka." Namun, Stair sengaja menyembunyikan fakta bahwa MacIain telah mengucapkan sumpah, meskipun terlambat.

Kemudian, pada tanggal 1 Februari 1692, para prajurit kerajaan, sebagian besar dari Resimen Earl of Argyll yang dipimpin oleh Kapten Robert Campbell dari Glenlyon, tiba di Glen Coe. Mereka datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai tamu. Mereka menawarkan kedamaian dan meminta tempat berlindung dari musim dingin yang parah. Klan MacDonald, sesuai dengan tradisi luhur keramahan Dataran Tinggi yang menganggap tamu sebagai orang suci, menyambut mereka dengan tangan terbuka. Mereka memberi para prajurit tempat tinggal di rumah-rumah mereka sendiri, berbagi makanan, minuman, dan kehangatan. Selama 12 hari berikutnya, kedua belah pihak hidup berdampingan dalam suasana yang tampak damai, seolah-olah mereka adalah teman lama. Anak-anak klan MacDonald bermain dengan para prajurit, dan para pemimpin klan berbagi cerita di malam hari.

Namun, di balik keramahan yang tulus itu, sebuah rencana keji sedang dirajut. Pada malam tanggal 13 Februari, badai salju yang dahsyat menerjang Glen Coe, menyebabkan kondisi jarak pandang menjadi nol dan suhu anjlok tajam. Saat klan MacDonald tidur lelap, para tamu yang mereka jamu, para prajurit yang telah berbagi roti dan atap dengan mereka, berkumpul. Mereka menerima perintah terakhir mereka, sebuah perintah yang mengkhianati setiap ikatan kehormatan dan kemanusiaan.

Pada dini hari tanggal 14 Februari 1692, pembantaian dimulai. Para prajurit secara sistematis menyerbu rumah-rumah tempat mereka menginap. Mereka mulai membunuh secara brutal semua orang yang mereka temui, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. MacIain, kepala klan yang berusia 70 tahun, adalah salah satu korban pertama; ia ditembak mati di tempat tidurnya sendiri. Setidaknya 38 anggota klan tewas keesokan paginya, disembelih dalam kegelapan dan badai salju.

Banyak lagi yang berhasil melarikan diri ke perbukitan yang tertutup salju, mencoba mencari perlindungan dari pembantaian yang mengerikan. Namun, badai salju yang ekstrem dan suhu di bawah nol membuat pelarian mereka tak kalah mematikan. Banyak dari mereka yang akhirnya meninggal karena kedinginan dan kelaparan di tengah pegunungan yang tak kenal ampun. Rumah-rumah klan dibakar, ternak dibunuh, dan seluruh lembah Glen Coe menjadi saksi bisu kekejaman yang tak terbayangkan.

Puluhan Orang Diajak Nginap oleh Musuh, Berakhir Tewas Dibantai

Berita tentang pembantaian Glen Coe segera menyebar ke seluruh Skotlandia dan bahkan Inggris, memicu kemarahan yang meluas. Bangsa Skotlandia, meskipun terbiasa dengan perang dan pembunuhan klan, sangat terkejut dan marah atas kekejaman pembantaian ini. Ini bukan perang biasa, bukan pertempuran di medan laga. Ini adalah "pembunuhan di bawah kepercayaan" (murder under trust), sebuah pelanggaran paling keji terhadap kode etik dan kehormatan yang dipegang teguh di Dataran Tinggi. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dalam ingatan kolektif Skotlandia, menjadi simbol pengkhianatan yang tak termaafkan dan memperburuk ketegangan antara Dataran Tinggi dan Dataran Rendah. Hingga kini, Glen Coe tetap menjadi pengingat abadi akan salah satu babak paling gelap dalam sejarah Skotlandia.