Pada Kamis, 12 Februari 2026, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menerima kunjungan delegasi tingkat tinggi dari Republik Islam Pakistan di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan penting ini menggarisbawahi komitmen kuat kedua negara untuk mempererat ikatan persaudaraan dan kemitraan strategis yang telah terjalin lama, dengan fokus pada penguatan kerja sama di sektor pertahanan, peningkatan investasi bilateral, serta koordinasi dalam forum multilateral, termasuk persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, yang turut mendampingi delegasi, dalam keterangan persnya usai pertemuan, secara lugas menegaskan kedalaman dan kedekatan historis hubungan bilateral antara kedua negara. "Pakistan dan Indonesia adalah dua negara bersaudara," ujar Zahid, dengan menambahkan, "Secara historis, kita telah menjalin hubungan bilateral yang sangat baik. Dan saya sangat senang mengatakan bahwa hubungan antara kedua bangsa kita ini telah ada bahkan sebelum kemerdekaan kedua negara kita." Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari akar sejarah yang kuat, di mana kedua bangsa telah saling mendukung dalam perjuangan menuju kedaulatan dan kemerdekaan, serta berbagi nilai-nilai keislaman dan prinsip-prinsip non-blok dalam tata pergaulan internasional.

Hubungan Indonesia dan Pakistan memang memiliki fondasi yang kokoh sejak awal berdirinya kedua negara. Tokoh-tokoh pendiri seperti Sukarno dan Jinnah, serta kemudian Presiden Ayub Khan, telah membangun jembatan persahabatan yang kuat, yang termanifestasi dalam kerja sama di berbagai forum internasional seperti Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 dan Gerakan Non-Blok. Kedekatan ini telah menjadi modal berharga bagi kedua negara untuk terus mengembangkan kemitraan strategis di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Dalam aspek pertahanan, kunjungan delegasi Pakistan ini, yang sebelumnya juga sempat disoroti dengan kehadiran Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan yang menemui Presiden Prabowo, mengindikasikan adanya keinginan kuat untuk memperdalam kolaborasi. Pembahasan mencakup potensi peningkatan pertukaran informasi intelijen, pelaksanaan latihan militer bersama, pengembangan kapasitas industri pertahanan, serta peluang akuisisi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang saling menguntungkan. Kedua negara, yang memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas regional di Asia Selatan dan Asia Tenggara, melihat kerja sama pertahanan sebagai elemen krusial untuk menghadapi tantangan keamanan bersama, termasuk terorisme, kejahatan transnasional, dan keamanan maritim di Samudra Hindia. Peningkatan kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang lebih besar dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan.

Selain pertahanan, sektor ekonomi dan investasi juga menjadi agenda sentral dalam pertemuan tersebut. Presiden Prabowo dan delegasi Pakistan membahas langkah-langkah konkret untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral dan mendorong investasi lintas batas. Potensi kerja sama investasi meliputi berbagai sektor strategis seperti infrastruktur, energi terbarukan, pertanian, manufaktur, dan teknologi digital. Indonesia, dengan pasar domestik yang besar dan posisinya sebagai gerbang ke ASEAN, menawarkan peluang investasi yang menarik bagi perusahaan-perusahaan Pakistan. Sebaliknya, Pakistan, dengan lokasi geografisnya yang strategis sebagai jembatan menuju Asia Tengah dan Timur Tengah, juga menyajikan prospek bagi investor Indonesia. Optimalisasi perjanjian perdagangan preferensial (PTA) yang sudah ada serta eksplorasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru dapat menjadi instrumen untuk mencapai target peningkatan nilai perdagangan yang ambisius. Memperkuat konektivitas bisnis melalui forum-forum investasi dan pameran dagang juga menjadi fokus untuk mendorong interaksi antara pelaku usaha kedua negara.

Aspek kerja sama multilateral, khususnya dalam konteks Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8 atau Developing 8, turut menjadi sorotan penting. D8 adalah sebuah forum yang beranggotakan delapan negara berkembang dengan mayoritas penduduk Muslim—Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, dan Turki—yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. Kedua pemimpin membahas persiapan menjelang KTT D8 yang akan datang, dengan harapan dapat mengidentifikasi inisiatif-inisiatif baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, memperkuat perdagangan intra-D8, serta mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan kemiskinan. Keterlibatan aktif Indonesia dan Pakistan dalam D8 mencerminkan komitmen mereka untuk berkontribusi pada tata kelola global yang lebih adil dan inklusif, serta menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang di panggung dunia. Selain D8, kedua negara juga aktif berkoordinasi dalam forum internasional lainnya seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk isu-isu mulai dari perdamaian dan keamanan global hingga hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan.

Duta Besar Zahid Hafeez Chaudhri lebih lanjut menekankan bahwa pertemuan ini bukan hanya seremonial, melainkan landasan untuk aksi konkret di masa depan. Ia menyatakan keyakinannya bahwa dengan kepemimpinan Presiden Prabowo, hubungan bilateral antara Indonesia dan Pakistan akan semakin kuat dan dinamis. Komitmen untuk melakukan pertukaran kunjungan tingkat tinggi secara lebih sering, mengadakan dialog reguler antara pejabat, serta memfasilitasi interaksi antar-masyarakat diharapkan dapat mempererat ikatan emosional dan praktis antara kedua negara. Potensi kerja sama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan juga dapat dieksplorasi lebih jauh untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi timbal balik.

Prabowo Terima Delegasi Pakistan, Bahas Pertahanan, Investasi hingga KTT D8

Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan delegasi Pakistan ini secara tegas menggarisbawahi tekad bersama untuk memperkuat kemitraan strategis yang komprehensif. Dengan fondasi historis yang kuat, kesamaan nilai, dan komitmen yang diperbarui untuk kerja sama di berbagai lini—mulai dari pertahanan, ekonomi, investasi, hingga koordinasi multilateral—Indonesia dan Pakistan siap melangkah maju. Kemitraan yang lebih erat ini tidak hanya akan membawa manfaat signifikan bagi kedua bangsa, tetapi juga akan berkontribusi pada stabilitas, kemakmuran, dan perdamaian di kawasan serta di tingkat global, khususnya dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.