Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa rangkaian kegiatan Imlek ini merupakan hasil koordinasi erat antara Pemprov DKI dan pemerintah pusat, menandakan komitmen bersama untuk menjadikan perayaan ini sebagai momen persatuan dan kegembiraan bagi seluruh warga Jakarta. "Minggu lalu kami, antara pemerintah pusat dan pemerintah Jakarta, sudah mengadakan rapat bersama untuk menyambut Imlek ini. Beberapa kegiatan sudah disepakati, termasuk yang di Lapangan Banteng," ujar Pramono, menggarisbawahi kolaborasi lintas instansi dalam perencanaan acara berskala besar ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Salah satu daya tarik utama yang akan mengubah wajah kota adalah Festival Lampion. Perayaan ini tidak hanya akan menghiasi pusat-pusat keramaian, tetapi juga akan melibatkan gedung-gedung perkantoran dan kawasan bisnis. Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) dan sekitarnya, yang dikenal sebagai jantung ekonomi Jakarta, telah mulai memasang lampion-lampion indah, mengubah lanskap kota menjadi lautan cahaya yang memukau. "Kalau dilihat mulai sekarang kan sudah ada beberapa gedung yang memasang lampion, terutama di SCBD dan sekitarnya. Prinsipnya akan kami buat lebih colorful, lebih meriah," tutur Pramono, membayangkan pemandangan malam Jakarta yang akan semakin semarak dengan ribuan lampion berbagai bentuk dan warna, simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Festival Lampion ini diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga ikon baru yang memperkaya pengalaman warga dan wisatawan selama perayaan Imlek. Penggunaan teknologi pencahayaan modern dipadukan dengan desain lampion tradisional akan menciptakan harmoni estetika yang menawan, mengundang masyarakat untuk menjelajahi sudut-sudut kota yang dihiasi.

Selain itu, atraksi barongsai yang penuh energi dan kegembiraan juga akan menjadi primadona dalam perayaan Imlek 2026. Pertunjukan barongsai yang melambangkan keberanian, keberuntungan, dan pengusiran roh jahat, akan digelar di sejumlah ruas protokol Jakarta, termasuk kawasan Sudirman-Thamrin. Kehadiran barongsai di jalan-jalan utama kota akan memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat untuk menyaksikan tarian singa yang akrobatik, diiringi tabuhan drum dan simbal yang riuh rendah. Bukan hanya di jalan protokol, pertunjukan barongsai juga diproyeksikan akan memeriahkan pusat perbelanjaan, hotel, dan area publik lainnya, memastikan semangat Imlek terasa di setiap sudut kota. Ini merupakan upaya untuk membawa seni dan budaya Tionghoa lebih dekat ke masyarakat luas, sekaligus menunjukkan kekayaan warisan budaya yang ada di Jakarta.

Puncak perayaan Imlek, yakni Cap Go Meh, juga akan diselenggarakan secara meriah di kawasan Glodok. Glodok, yang dikenal sebagai salah satu pecinan tertua dan terbesar di Jakarta, memiliki sejarah panjang sebagai pusat kebudayaan Tionghoa. Perayaan Cap Go Meh di Glodok biasanya melibatkan parade besar yang menampilkan barongsai, liong (tarian naga), kereta kencana, serta berbagai pertunjukan seni tradisional Tionghoa lainnya. Ribuan warga dan wisatawan diperkirakan akan memadati jalanan Glodok untuk menyaksikan kemeriahan ini, mencicipi kuliner khas Imlek, dan merasakan atmosfer kebersamaan yang kental. "Kemudian nanti ada Cap Go Meh di Glodok. Lalu juga ada beberapa kegiatan barongsai yang ada di Sudirman-Thamrin," kata Pramono, menandaskan pentingnya Glodok sebagai episentrum perayaan budaya ini.

Lapangan Banteng, sebuah ruang publik ikonik yang sering menjadi tuan rumah berbagai acara besar, juga akan menjadi salah satu pusat kegiatan utama Imlek 2026. Meski rincian spesifik kegiatan di Lapangan Banteng belum sepenuhnya diungkap, namun diprediksi akan ada panggung utama untuk pertunjukan seni budaya, bazaar kuliner, pameran UMKM, serta berbagai instalasi seni yang mengangkat tema Imlek. Kehadiran acara di Lapangan Banteng akan menjadikan perayaan ini lebih inklusif dan dapat diakses oleh lebih banyak lapisan masyarakat.

Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa seluruh rangkaian perayaan ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga merupakan cerminan dari semangat toleransi, keberagaman, dan persatuan yang dijunjung tinggi di Jakarta. Melalui perayaan budaya seperti Imlek, Pemprov DKI berharap dapat mempererat tali silaturahmi antarwarga dari berbagai latar belakang etnis dan agama, sekaligus mempromosikan Jakarta sebagai kota metropolitan yang kaya akan budaya dan harmonis. Perayaan ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dan transaksi di sektor perdagangan serta jasa.

Rangkaian perayaan Imlek ini direncanakan berlangsung hingga tanggal 17 Februari 2026. Setelah tanggal tersebut, Pemprov DKI Jakarta akan segera mengalihkan fokus dan suasana kota untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. "Ini akan berakhir tanggal 17 Februari, karena tanggal 18 sudah mulai puasa. Nanti suasananya akan kami ganti untuk menyambut Ramadan sampai Idulfitri," jelas Pramono, menunjukkan kesigapan Pemprov dalam mengelola dan menyelaraskan berbagai perayaan penting yang berurutan dalam kalender nasional. Peralihan cepat dari kemeriahan Imlek ke suasana yang lebih khidmat untuk menyambut Ramadan ini menunjukkan dinamisme dan kemampuan Jakarta dalam merangkul dan merayakan berbagai tradisi secara berkesinambungan. Persiapan untuk Ramadan, yang meliputi dekorasi, acara keagamaan, dan kegiatan sosial, akan segera dimulai setelah Imlek usai, memastikan kota tetap hidup dengan semangat kebersamaan dan spiritualitas yang berbeda.

Pramono Jamin Perayaan Imlek di DKI Meriah, Ada Festival Lampion-Barongsai

Secara keseluruhan, Imlek 2026 di Jakarta diproyeksikan akan menjadi sebuah perayaan yang tak terlupakan, penuh dengan cahaya lampion, tarian barongsai yang memukau, parade Cap Go Meh yang meriah, serta semangat persatuan yang kuat. Pemprov DKI Jakarta bersama pemerintah pusat berkomitmen untuk menyajikan pengalaman terbaik bagi seluruh masyarakat, menjadikan Imlek bukan hanya sebagai perayaan etnis tertentu, melainkan sebagai festival budaya bagi seluruh warga Jakarta. Dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi yang solid, Jakarta siap memancarkan semangat Tahun Baru Imlek dengan kemegahan dan kehangatan yang luar biasa, sebelum kemudian beralih menyambut bulan suci Ramadan dengan kekhusyukan.