Banjir dengan ketinggian mencapai 75 sentimeter kembali merendam kompleks perumahan di wilayah Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Jumat (20/2/2026). Peristiwa ini dipicu oleh curah hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak dini hari, menyebabkan debit air Kali Krukut yang melintasi kawasan tersebut meluap drastis. Akibatnya, akses jalan utama terputus dan puluhan rumah warga terendam, melumpuhkan aktivitas sehari-hari ratusan keluarga.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo, Dirsamapta Polda Metro Jaya, dalam keterangannya mengonfirmasi kondisi genangan yang signifikan. "Untuk di wilayah perumahan tersebut, kami mencatat genangan setinggi 75 cm. Ketinggian ini cukup mengkhawatirkan dan telah memutus akses bagi semua jenis kendaraan," ujar Kombes Wahyu saat memantau langsung lokasi kejadian. Ia menambahkan bahwa luapan air dari Kali Krukut terjadi sangat cepat, mengejutkan warga yang tengah bersiap memulai aktivitas pagi. Sejak pukul 04.00 WIB, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur wilayah Jakarta Selatan, menyebabkan muka air sungai terus naik hingga puncaknya pada pukul 07.00 WIB, air mulai melimpah ke permukiman warga di tepi sungai.

Tim dari Sie Pammat Ditsamapta Polda Metro Jaya segera dikerahkan ke lokasi untuk memberikan bantuan dan melakukan evakuasi. Dengan sigap, anggota kepolisian menggunakan perahu karet untuk menyisir rumah-rumah warga yang terjebak air. Prioritas evakuasi diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil yang membutuhkan bantuan segera. "Anggota melakukan evakuasi kepada warga yang membutuhkan bantuan. Kami berupaya semaksimal mungkin memastikan keselamatan setiap warga terdampak," tegas Kombes Wahyu, seraya mengapresiasi kecepatan respons tim di lapangan. Hingga siang hari, puluhan warga berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman, sebagian besar ke posko pengungsian sementara yang didirikan di masjid atau balai warga yang lokasinya lebih tinggi.

Salah seorang warga, Ibu Aminah (62), yang tinggal di RT 005/RW 001 Kelurahan Pela Mampang, menceritakan kepanikan yang dialaminya. "Air masuk rumah tiba-tiba saja, belum sempat menyelamatkan barang-barang penting. Kulkas, televisi, semua sudah terendam. Ini sudah langganan setiap tahun, tapi kali ini rasanya lebih parah dan cepat naiknya," keluhnya dengan nada putus asa setelah berhasil dievakuasi bersama cucunya yang masih balita. Sejumlah perabot rumah tangga terlihat mengambang di dalam rumah-rumah yang terendam, memperlihatkan kerugian materi yang tidak sedikit bagi para penghuni. Beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang terparkir di garasi atau pinggir jalan juga ikut terendam, menambah daftar kerugian yang ditanggung warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta juga telah mengaktifkan posko siaga darurat di Mampang Prapatan untuk mengkoordinasikan bantuan dan penanganan bencana. Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim asesmen dan logistik ke lokasi. "Kami telah menyalurkan bantuan awal berupa makanan siap saji, air mineral, selimut, serta peralatan kebersihan. Tim kesehatan juga disiagakan untuk mengantisipasi adanya warga yang sakit atau membutuhkan pertolongan medis," jelas Isnawa Adji, seraya menambahkan bahwa data jumlah pengungsi dan kerusakan masih terus didata. Ia juga mengimbau warga untuk tetap waspada mengingat potensi hujan masih tinggi dan air diperkirakan belum akan surut dalam waktu dekat.

Banjir di Pela Mampang, khususnya yang bersumber dari luapan Kali Krukut, bukanlah fenomena baru. Kawasan ini merupakan salah satu titik langganan banjir di Jakarta Selatan. Penyempitan badan Kali Krukut akibat sedimentasi dan tumpukan sampah, serta minimnya area resapan air di sepanjang bantaran sungai karena pesatnya pembangunan permukiman padat, menjadi faktor-faktor utama penyebab berulangya bencana ini. Meskipun pemerintah provinsi telah melakukan upaya normalisasi sungai, pengerukan, dan pembangunan tanggul di beberapa titik, tantangan untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif masih sangat besar.

Dr. Ir. Budi Santoso, seorang pakar hidrologi dari Universitas Indonesia, menyoroti bahwa masalah Kali Krukut adalah masalah hulu-hilir yang kompleks. "Tidak cukup hanya mengeruk atau membangun tanggul di hilir. Tata ruang di wilayah hulu seperti Depok dan Bogor juga harus diatur dengan baik agar tidak terjadi deforestasi atau alih fungsi lahan yang mengurangi daerah resapan air. Pengelolaan sampah yang buruk di sepanjang aliran sungai juga memperparah kondisi. Semua elemen harus bekerja sama, mulai dari pemerintah daerah hingga partisipasi aktif masyarakat," papar Dr. Budi. Ia juga menambahkan bahwa intensitas hujan ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global memperburuk situasi, menjadikan upaya mitigasi banjir semakin mendesak dan kompleks.

Pemerintah Kota Jakarta Selatan melalui camat Mampang Prapatan, Tomy Fudihartono, menyatakan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan banjir ini. "Kami akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan bantuan sampai kepada warga yang membutuhkan. Setelah air surut, kami juga akan segera menggerakkan warga untuk kerja bakti membersihkan lingkungan dan menormalisasi saluran air yang tersumbat," kata Tomy. Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai dan menjaga kebersihan lingkungan demi meminimalisir risiko banjir di masa mendatang.

Perumahan di Pela Mampang Jaksel Banjir, Warga Dievakuasi Pakai Perahu Karet

Hingga sore hari, situasi di Pela Mampang masih belum sepenuhnya kondusif. Meskipun debit air Kali Krukut dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan perlahan, genangan di permukiman warga masih cukup tinggi. Petugas gabungan dari kepolisian, BPBD, Dinas Sosial, dan relawan masih bersiaga di lokasi, membantu warga dan mengawasi perkembangan kondisi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Penanganan pasca-banjir, termasuk pembersihan lumpur dan sampah, serta pemulihan psikologis bagi korban, akan menjadi fokus utama dalam beberapa hari ke depan. Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan Jakarta terhadap ancaman banjir dan urgensi solusi jangka panjang yang berkelanjutan.